Logo Kalamintoena

Kalamintoena

Catatan Kecil Petani Kopi Bukit Kabut Sedingin - Jambi

Di Balik Kabut Tebal, Ada Ibu yang Berjuang Pulang

Hari ini hari Rabu, hari balai.

Kabut Hingga Siang Bukit Sedingin

Sudah lewat jam sebelas. Kabut masih saja tebal menyelimuti bukit ini. Aku di sini, di teras pondok, ditemani putraku.

Udara dingin menembus baju, tapi hatiku lebih dingin memikirkan satu hal: Istriku belum pulang.

Pagi-pagi sekali, saat langit masih gelap gulita, dia sudah berangkat. Bersama ibu-ibu lain dari perkebunan kopi Bukit Sedingin ini.

Berjalan jauh menembus hutan dan jalan berlumpur, turun ke pasar untuk membeli kebutuhan kami.

Aku tahu tadi pagi hujan turun. Pasti dia kehujanan di jalan. Sepatu yang mungkin basah kuyup, tangan yang membeku, tapi tetap berjalan. Demi segenggam tekad, menjemput rezeki di kebun kopi, yang kami rawat dengan keringat dan doa suci.

Di kota, orang mungkin bilang "hujan itu romantis". Tapi di sini, hujan berarti jalan licin, beban berat, dan waktu yang lebih lama untuk pulang.

Namun hari rabu pagi, wanita-wanita hebat ini tetap melangkah. Tanpa keluhan. Tanpa pamrih.

Kabut masih tebal, belum menunjukkan gejala akan menipis. Semoga di kejauhan, di jalan yang berkelok itu, dia sudah berjalan pulang.

Semoga langkahnya ringan, semoga tubuhnya hangat, semoga senyumnya masih utuh saat melihat kami menunggunya di beranda.

Untuk semua ibu yang berjuang di ladang, di jalan, di mana saja: Terima kasih.

Kalian adalah cahaya yang tidak pernah padam, bahkan saat kabut paling tebal sekalipun. — Di Bukit Sedingin, menunggu ibi pulang. ❤️

☕
☕ Berbagi Ke Facebook

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi pendapat, kritik dan saran. Siapa tau buah pikirmu adalah solusi kita bersama.