Di Bukit ini, Jalan Kami Masih Milik Kami
Gotong Royong memperbaiki jalanBukit Sedingin
Di bukit ini, tidak ada balai desa. Tidak ada kantor kepala desa. Tidak ada gedung pertemuan. Kami semua perantau dari Bengkulu.
Datang ke Bukit Sedingin ini hanya dengan kinjar dan harapan. Yang menyatukan kami bukan aturan pejabat, bukan tembok kantor — tapi jalan yang sama yang kami lalui untuk mengeluarkan setiap butir biji kopi.
Hari Minggu kemarin kami gotong royong rutin. Jalan yang dibangun oleh pendahulu kami, petani kopi Bukit Sedingin yang lebih dahulu bermukim di sini.
Tapi hari itu ketua kelompok mengeluh. Bukan karena batu yang berat, tapi karena hati yang penat.
Banyak yang belum bayar iuran. Pengurus kerja tanpa gaji, sekarang malah harus berkeliling menagih ke tetangga — orang yang sama-sama merantau jauh dari rumah.
Ada yang belum bayar iuran untuk beli papan, kayu dan paku. Ada yang masih tidak datang membantu.
Ada yang bilang: "Kalau dia belum bayar, aku juga nanti saja."
Tapi coba bayangkan, mendengar dari cerita orang. Di Sungai Tebal, ada yang namanya Jalan Galaran. Untuk mengeluarkan kopi dari kebun, petani di sana sampai ada yang harus membayar Rp200.000 sekali lewat bahkan lebih. Hanya untuk lewat.
Coba kita bandingkan:
| Perbandingan | Jalan Tol Bengkulu–Taba Penanjung | Jalan Galaran Sungai Tebal |
| 📏 Panjang Jalan | 16,7 km | Beberapa km saja |
| 💰 Biaya lewat | Rp23.500 (golongan I) | Rp10.000–20.000 per pemilik jalan |
| 😱 Total | Rp23.500 untuk 16,7 km | Bisa sampai Rp200.000 untuk beberapa km! 😢 |
Bayangkan: jalan tol resmi sepanjang 17 km cuma Rp23.500. Tapi di Sungai Tebal, untuk jarak yang jauh lebih pendek, petani bisa bayar sampai Rp200.000 — lebih dari 8 kali lipat!
Itulah mengapa menjaga jalan kita sendiri sangat berharga
🙏☕🌿
Seperti di Sungai Tebal itu juga yang akan terjadi kalau jalan kami tidak milik kami sendiri — diatur oleh orang lain, harganya ditentukan orang lain, dan tentu saja hanya bisa menurut kalau mau lewat.
Di Bukit Sedingin ini, kami masih punya pilihan. Kami bisa menjaga jalan ini untuk kami, oleh kami, tanpa dipungut biaya selamanya.
Tapi itu hanya bisa terjadi kalau kami semua ikut menanggung beban yang sama.
Tidak ada balai untuk menempel daftar. Tidak ada kantor untuk memanggil. Tidak ada yang berkuasa memerintah.
Di bukit ini, kami semua sama — sama-sama mencari nafkah, sama-sama jauh dari kampung halaman.
Lalu siapa yang akan menegur?
Tidak ada siapa-siapa. Kecuali hati kami sendiri.
Jalan ini bukan jalan ketua. Bukan jalan bendahara. Ini jalan kami — orang-orang yang memilih hidup di Bukit Sedingin, jauh dari rumah.
Kalau bukan kami yang saling bantu, saling menjaga, siapa lagi?
Tapi, ya itu tadi.
Banyak argumen dan kesepakatan yang "sepertinya" disepakati. Tapi kenyataannya, semuanya bergantung pada kesadaran individu masing-masing.
Pada bulan Februari 2026 (sebelum romadhon) diberi tenggat melunasi iuran jalan hingga 2 Minggu puasa berjalan. Namun sampai sekarang masih ada juga yang belum bayar.
Dampaknya, papan, kayu, untuk membenahi jalan sudah hampir lapuk di lahan. Belum juga di pasang.
Kesepakatan ada, yang tidak ikut iuran, yang tidak ikut gotong royong sanksinya di larang melewati jalan pakai motor. Kalau mau mengeluarkan kopi. Ya usung sendiri.
Atau kalau tidak bisa ikut gotong royong, bayar denda. Rp100.000, atau papan 2 keping, atau paku.
Tapi tidak ada yang tidak ikut gotong royong yang bayar. Entah bagaimana kedepannya.
Ketua sudah memutuskan, kalau sampai akhir bulan ini masih banyak yang tidak bayar iuran. Maka papan dan kayu batal di pasangkan. Dibagi rata sama yang sudah bayar.
Padahal, iuran jalan itu bukan pungutan. Itu harga yang kami bayar supaya jalan kami tidak jadi seperti Galaran di Sungai Tebal — jalan yang kami pakai, tapi bukan milik kami.
Gotong royong hari minggu kemaren kami menimbun jalan. Jadi bagus seperti di gambar. Tapi kalau hari hujan..?
Pasti jadi Siring lagi. Becek, dan sulit di lalui. Dan yah, malam ini Selasa, 25/08/26 hujan deras. Semoga besok di hari pasar, jalannya masih layak untuk dilalui para petani yang pakai motor ke pasar.
Ini sekedar cerita, bisa dibilang curhat juga. Tapi yang jelas, sampai aku selesai menuliskan ini juga masih ada beban di hati. Entah untuk apa aku menceritakan ini.
Hanya sekedar catatan kecilku saja mungkin, atau memang nantinya dapat membuat kelanjutan catatan yang lebih bermanfaat dengan bagaimana kami mengatasi masalah jalan kami ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberi pendapat, kritik dan saran. Siapa tau buah pikirmu adalah solusi kita bersama.