Logo Kalamintoena

Kalamintoena

Catatan Kecil Petani Kopi Bukit Kabut Sedingin - Jambi

Kopi Robusta Ciari: Klon Legendaris "Cik Ari" yang Membuat Petani Terpesona

Kopi Robusta Ciari
Kopi Robusta Ciari

Klon Kopi Robusta Cik Ari (atau sering ditulis Ciari) adalah salah satu jenis kopi lokal legendaris yang belakangan makin ramai diomongin dan dicari para petani buat bahan stek sambung pucuk.

Kalau kita lagi ngobrol di warung kopi, kehebatan Klon Cik Ari ini biasanya digambarkan lewat tiga ciri khas utamanya:

1. Buahnya Lebat Gila

Ini alasan utama kenapa petani kesengsem. Sekali berbuah, dompolannya rapat banget di sepanjang dahan. Kalau perawatannya pas dan rajin dipupuk, hasil panen per batangnya bisa bikin kantong tebal.

2. Dahan Merunduk Lentur Sampai Tanah

Nah, ini ciri fisik paling gampang dikenali. Karakteristik dahan Klon Cik Ari itu panjang, lemas, dan merunduk ke bawah. Saking lenturnya, ujung dahan yang penuh buah bahkan bisa sampai menyentuh tanah.

Keuntungannya?

Pas panen kita gak perlu repot-repot manjat atau narik dahan tinggi-tinggi, tinggal jongkok atau berdiri santai aja sudah bisa memetik buah merahnya.

3. Karakter Biji Besar

Bukan cuma menang di kuantitas dompolan buah, ukuran biji kopi dari klon Cik Ari ini juga tergolong besar-besar dan mantap kalau dibandingin beberapa jenis kopi lokal biasa. Otomatis, pas ditimbang bobotnya langsung terasa bedanya.

Klon Cik Ari ini jadi andalan banget buat dijadikan entres (tunas atas). Biasanya petani menyambungnya dengan batang bawah jenis kopi yang akarnya kuat (seperti klon BP 308).

Hasil perkawinan itu bikin pohonnya tahan penyakit di bawah tanah, tapi buah di atasnya selebat dan semudah memetik kopi Cik Ari.

Asal Usul Kopi Ciari

Kopi Ciari (Cik Ari) ini aslinya berasal dari wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), khususnya sangat populer di kalangan petani kopi di daerah Pagar Alam, Lahat, Empat Lawang (Sumatera Selatan), hingga menyeberang ke daerah Bengkulu dan kawasan Lampung.

Nah, lebih spesifik nya, Kopi Ciari (Cik Ari) ini aslinya berasal dari kecamatan Kepahyang, Kabupaten Kepahyang, Provinsi Bengkulu

Lebih spesifiknya lagi, varietas lokal ini pertama kali ditemukan dan dikembangkan oleh seorang petani setempat di daerah Benuang Galing.

Nama "Cik Ari" — yang kemudian lebih akrab disebut "Ciari" — diambil dari nama petani lokal yang pertama kali menemukan atau menyeleksi pohon induk jagoan ini di kebunnya.

Seperti Klon Komari dan Klon Casio di Lampung, penamaan ini adalah penghormatan — bukan pada perusahaan besar, tapi pada satu orang petani yang menemukan kebaikan di kebunnya, dan dia, BERBAGI.

Kalau di tongkrongan petani daerah sana, pembibitan dengan cara menyulap Kopi Ciari jadi entres (grafting) sudah jadi rahasia umum biar panennya meledak.

Di Pagar Alam, sampai Kepahiang (Bengkulu) paling sering berburu ranting lancuran Ciari buat dijadikan entres. Mereka biasanya menyambung Ciari ini ke batang bawah kopi lokal lain yang perakarannya lebih kuat menembus tanah berbatu atau tanah liat.

Viral Gara-Gara Tokoh Petani

Jenis kopi Ciari ini makin naik daun dan makin luas dipakai petani di luar Sumbagsel setelah dipopulerkan oleh tokoh seperti Susno Duadji (mantan jenderal yang sekarang aktif jadi petani di kampung halamannya di Sumsel).

Lewat video-videonya, beliau sering pamer kebun kopi warisan yang dahannya merunduk ke tanah penuh buah gara-gara pakai sambung pucuk Kopi Ciari ini.

Sampai ke Lampung

Tren entres Ciari ini juga merembet ke para penyedia bibit di Lampung. Sekarang kalau kita cek di marketplace online pertanian, banyak petani dari Lampung yang menjual entres lancuran Ciari ini.

Mereka bahkan siap kirim per batang untuk para petani di daerah lain yang penasaran pengen coba.

Intinya, kalau kita main ke kebun kopi robusta di area Sumsel, Bengkulu, atau Lampung, nanya soal "Kopi Ciari buat bahan stekan" pasti rata-rata petaninya langsung nyambung dan paham.

Kelemahan Genetik

Nah, di sinilah letak rahasia pentingnya. Sifat genetik kopi Robusta — termasuk klon lokal legendaris seperti Ciari — adalah penganut sistem penyerbukan silang.

Artinya, bunga kopi Ciari tidak bisa menyerbuki dirinya sendiri, melainkan harus dibantu angin atau lebah yang membawa serbuk sari pohon kopi jenis lain di sekitarnya.

Karena proses kawin silang alami itulah, kalau nekat menanam Kopi Ciari langsung dari bijinya, bakal muncul beberapa kelemahan fatal:

1. Genetiknya "Pecah" (Anaknya Gak Mirip Indukan)

Ini hukum alam di dunia kopi Robusta. Biji yang dihasilkan itu sudah membawa sifat campuran dari "bapak" yang tidak ketahuan jenisnya.

Begitu biji Ciari ditanam, sifat jagoannya bisa hilang. Anakan yang tumbuh nanti belum tentu punya dahan lentur merunduk. Dompolan buahnya bisa jadi malah jarang-jarang, tidak selebat pohon induknya. Ukuran bijinya yang aslinya besar-besar bisa menyusut jadi kecil.

2. Masa Berbuah Jauh Lebih Lama

Tanaman kopi yang tumbuh murni dari biji butuh waktu lama untuk mematangkan dirinya sendiri. Dari tanam biji sampai bisa panen perdana (belajar berbuah), petani harus sabar menunggu sekitar 3 sampai 4 tahun.

Bandingkan kalau pakai sistem sambung pucuk stekan (entres Ciari ditempel ke batang bawah), dalam waktu 1,5 sampai 2 tahun biasanya kebun sudah mulai berbuah lebat.

3. Pohonnya Tumbuh Terlalu Bongsor

Pohon kopi dari biji akan menumbuhkan akar tunggang dan batangnya tegak lurus ke atas dengan sangat kuat. Akibatnya, pohon jadi cepat tinggi menjulang.

Padahal, nilai jual utama dari Ciari adalah dahannya yang merunduk ke bawah biar panennya gampang. Kalau pohonnya terlalu tinggi, keunggulan "panen sambil jongkok" tadi jadi hilang karena tetap harus repot manjat atau menarik dahan.

Solusi Terbaik yang Biasa Dipakai Petani Biar gak rugi waktu dan tenaga, petani di Sumsel atau Lampung biasanya menggabungkan kedua metode ini:

Mereka tetap menyemai biji kopi di polybag tapi biji yang dipakai adalah jenis kopi lokal yang terkenal punya akar tunggang sangat kuat, tahan serangan cacing tanah (nematoda), dan tahan kekeringan (contohnya klon BP 308).

Biji ini ditumbuhkan hanya untuk diambil batang bawahnya saja.

Setelah bibit dari biji itu berumur sekitar 5-6 bulan (batangnya sudah sebesar pensil), petani langsung memotong pucuknya, lalu disambung (grafting) menggunakan entres/tunas asli dari Kopi Ciari.

Dengan trik ini, mudah-mudahan dapat dua keuntungan sekaligus: bagian bawahnya kuat mencengkeram tanah berkat akar tunggang hasil tanam biji, tapi dahan dan buah di atasnya 100% fotokopi dari sifat jagoan Kopi Ciari yang lebat dan merunduk. 

Luar biasa bukan?

Dari satu kebun di Benuang Galing, satu nama petani sederhana, kini tersebar ke ribuan kebun di tiga provinsi. Itulah warisan sesungguhnya — bukan batu nisan, tapi pohon yang terus tumbuh dan memberi buah. 😊

Bukti bahwa satu petani yang cerdas bisa mengubah nasib banyak orang, dengan, BERBAGI.

"Semoga tulisan ini sampai ke tangan para petani yang membutuhkan. Dan Semoga kita terus berbagi, seperti Cik Ari yang berbagi pohonnya."

☕
☕ Berbagi Ke Facebook

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi pendapat, kritik dan saran. Siapa tau buah pikirmu adalah solusi kita bersama.