Logo Kalamintoena

Kalamintoena

Catatan Kecil Petani Kopi Bukit Kabut Sedingin - Jambi

Gajah Seblat Terdesak: Perambahan Hutan, Lahan, dan Masa Depan Kita

Ditemukan Kotoran Gajah Bercampur Sampah Plastik

Bentang Alam Seblat di Bengkulu bukan sekadar hamparan hutan

Ia adalah rumah bagi Gajah Sumatera, satwa liar lainnya, sekaligus ruang hidup bagi masyarakat di sekitarnya.

Namun hari ini, masa depan Seblat berada di persimpangan. Hutan terus dirambah. Habitat gajah terus menyusut. 

Berdasarkan data Koalisi Bentang Alam Seblat, sekitar 30.017 hektare dari total 112.504 hektare habitat gajah telah dirambah, dengan sebagian besar berubah menjadi perkebunan kelapa sawit ilegal.

Ketika hutan hilang, sumber pakan alami gajah pun ikut menghilang. Gajah akhirnya semakin sering keluar menuju perkebunan dan permukiman untuk bertahan hidup.

Yang lebih mengkhawatirkan, ditemukan material plastik dan pakaian bekas dalam kotoran gajah liar.

Satwa yang seharusnya hidup dari tumbuhan hutan kini harus berhadapan dengan sampah manusia.

Ini bukan sekadar konflik manusia dan gajah. Ini adalah tanda bahwa ruang hidup mereka sedang dirampas.

Di sisi lain, persoalan Seblat juga tidak sesederhana tentang siapa yang membutuhkan tanah. Masyarakat membutuhkan kepastian ruang hidup dan lahan untuk bertahan.

Tetapi keadilan tidak boleh berhenti pada pemberian akses semata. Kita juga perlu bertanya:

  • Siapa yang menguasai ruang?
  • Bagaimana ruang itu diperoleh?
  • Dan untuk kepentingan siapa lahan tersebut dimanfaatkan?

Terlebih ketika tutupan sawit telah mencapai lebih dari 12 ribu hektare di sejumlah kawasan Bentang Alam Seblat.

Pemerintah pun telah menyampaikan komitmen untuk menyelamatkan kawasan ini.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mendatangi Bentang Alam Seblat pada 14 Desember 2025, menegaskan pentingnya penyelamatan habitat gajah.

Kemudian pada Juni 2026, dalam pertemuan dengan Gubernur Bengkulu Helmi Hasan, pentingnya menjaga habitat kunci Gajah Sumatera yang tersisa di Seblat kembali disepakati.

Namun, pernyataan saja tidak cukup.

Seperti disampaikan Ali Akbar, Ketua Kanopi Hijau Indonesia, "Bentang Alam Seblat membutuhkan strategi dan tindakan nyata untuk menghentikan kerusakan yang terus berlangsung."

#SaveGajahSeblat #SelamatkanBentangSeblat #SelamatkanHutan #SelamatkanGajahSumatera
 
Copas Tanpa Edit dari Facebook.

Sumber: Link Postingan Kanopi Bengkulu

Info lebih lanjut: Facebook @ Kanopi Bengkulu

Gambar Postingan Kanopi Hijau Bengkulu

Pernyataan Temuan Kotoran Gajah Terdapat Sampah Plastik
Pernyataan. 1

Pernyataan Habitat Gajah Semakin Sedikit
Pernyataan 2

Pernyataan Alih Fungsi Habitat Gajah Menjadi Kebun Sawit
Pernyataan 3

Pernyataan Masyarakat Tani Juga Butuh Lahan
Pernyataan 4

Pernyataan Kedatangan Staff Ahli Kementrian Kehutanan
Pernyataan 5

Pernyataan Ketua Kanopi Hijau Indonesia
Pernyataan 6

Gajah Seblat Terdesak: Perambahan Hutan, Lahan, dan Masa Depan Kita

Oleh: Ipit Kalamintoena — Petani Kopi Jangkat, Jambi & Mantan Aktivis Konservasi, KPA Margapala, Bengkulu

Bentang Alam Seblat di Bengkulu bukan sekadar hamparan hutan. Ia adalah rumah bagi Gajah Sumatera, satwa liar lainnya, sekaligus ruang hidup bagi masyarakat di sekitarnya.

Bagi kami yang lahir dan tumbuh di tanah ini — yang kini merantau jauh, berkebun kopi di ujung TNKS di Provinsi Jambi — Seblat bukan sekadar peta atau angka di atas kertas. Ia adalah napas kami, sumber air kami, nafkah kami, dan warisan yang kami jaga sejak leluhur.

Namun hari ini, masa depan Seblat berada di persimpangan yang mengkhawatirkan. Kabar hutan terus dirambah, menjadi kabar duka di perantauan, kami merantau jauh agar hutan kami tidak rusak.

Kabar habitat gajah terus menyusut, bukankah kami merantau jauh agar tidak menggangu habitat mereka?.

Miris.. Berdasarkan data Koalisi Bentang Alam Seblat, sekitar 30.017 hektare dari total 112.504 hektare habitat gajah telah dirambah — dan sebagian besar berubah menjadi perkebunan kelapa sawit ilegal.

Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah ribuan hektar hutan yang kami kenal, kini berubah menjadi barisan pohon sawit yang asing.

Ketika hutan hilang, sumber pakan alami gajah pun ikut menghilang. Gajah yang berjalan ratusan kilometer di koridor hutan kini menemukan jalan mereka tertutup pagar dan perkebunan.

Mereka tidak punya pilihan lain selain keluar menuju perkebunan dan permukiman untuk bertahan hidup. Yang lebih memilukan — dan mungkin belum banyak yang tahu — ditemukan material plastik dan pakaian bekas dalam kotoran gajah liar di Seblat.

Satwa yang seharusnya hidup dari tumbuhan hutan yang murni, kini harus berhadapan dengan sampah manusia. Ini bukan sekadar soal kerusakan lingkungan. Ini adalah tanda bahwa ruang hidup mereka sedang dirampas, dan mereka dipaksa memakan apa yang kita buang.

Sebagai petani kopi yang setiap hari berjalan di batas hutan, saya memahami betul keadaan ini, kami disini juga merampas hak hidup Beruang Madu. Mereka sering kali membongkar pondok warga yang di tinggal, hanya untuk mendapatkan makanan.

Tempat kami berkebun di Bukit Sedingin ini bukanlah wilayah yang ditetapkan sebagai perlindungan habitat Beruang Madu. Tapi, ini tempat mereka. Saya yakin gajah juga keluar bukan karena mereka jahat. Mereka keluar karena bagi mereka, itu jalan mereka, ruang mereka, tempat mereka.

Mereka masuk ke kebun atau permukiman bukan untuk merusak, tapi karena di mana dulu mereka mencari makan, kini berdiri perkebunan lain.

Mereka bukan masuk, mereka kembali. Tapi keadaan telah berubah, berubah menjadi -bukan lagi milik gajah-

Marah kepada gajah?

Yakin..?

Dia lebih dulu punya tempat ini. Ada yang datang setelahnya, dan dia yang dipaksa tersesat di rumahnya sendiri..?

Apa itu namanya kalau bukan penjajahan.

Konflik manusia dan gajah bukanlah soal "gajah mengganggu manusia". Itu adalah narasi yang keliru.

Manusia lah yang mengambil ruang gajah, lalu marah ketika gajah masuk ke ruang yang tersisa.

Setiap kali gajah merusak kebun, ada cerita di baliknya: koridor hutan yang tertutup, sumber pakan yang habis, dan jalan pulang yang hilang.

Di sisi lain, persoalan Seblat juga tidak sesederhana tentang siapa yang membutuhkan tanah.

Masyarakat di sekitar hutan juga membutuhkan kepastian ruang hidup dan lahan untuk bertahan. Kami para petani, kami tidak minta banyak.

Cukup sebidang tanah yang jelas haknya, cukup air yang mengalir dari hutan yang utuh, cukup ruang supaya kami dan gajah sama-sama tidak terdesak.

Tetapi keadilan tidak boleh berhenti pada pemberian akses semata. Kita juga perlu bertanya dengan jujur:

Siapa yang sebenarnya menguasai ruang itu?

Bagaimana ruang itu diperoleh?

 Dan untuk kepentingan siapa lahan tersebut dimanfaatkan?

Terlebih ketika tutupan sawit telah mencapai lebih dari 12 ribu hektare di kawasan Bentang Alam Seblat. Kita harus jujur:

Apakah ekspansi ini benar-benar untuk kesejahteraan warga lokal seperti kami — petani yang menanam dengan keringat sendiri — atau hanya untuk keuntungan pihak-pihak yang punya modal dan kuasa dari jauh?

Sawit ilegal itu bukan sekadar merusak hutan. Ia merusak keseimbangan yang kami jaga. Hutan yang utuh menjaga air untuk kami, dan anak cucu kami.

Hutan yang hilang berarti air berkurang, tanah longsor meningkat, dan cuaca semakin tidak menentu.

Membiarkan hutan bukan berarti kami tidak mau berkembang. Justru sebaliknya — hutan yang sehat adalah masa depan pertanian kami juga.

Tanaman kami butuh kabut, butuh air, butuh kesejukan yang hanya hutan utuh bisa berikan.

Pemerintah Telah Menyampaikan Komitmen Penyelamatan Kawasan

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mendatangi Bentang Alam Seblat pada 14 Desember 2025, menegaskan pentingnya penyelamatan habitat gajah.

Kemudian pada Juni 2026, dalam pertemuan dengan Gubernur Bengkulu Helmi Hasan, pentingnya menjaga habitat kunci Gajah Sumatera yang tersisa di Seblat kembali disepakati.

Namun, pernyataan saja tidak cukup

Seperti disampaikan Ali Akbar, Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Bentang Alam Seblat membutuhkan strategi dan tindakan nyata untuk menghentikan kerusakan yang terus berlangsung.

Sebagai orang Bengkulu, sebagai mantan aktivis yang pernah berjalan di jalur-jalur hutan Seblat, dan kini sebagai petani kopi yang hidup di batas hutan perantauan — saya meminta satu hal saja:

Jangan biarkan janji berakhir di atas kertas. Jangan paksa kami memilih antara ladang dan gajah.

Kami ingin keduanya. Ladang untuk memberi makan keluarga, gajah untuk menjaga hutan yang memberi air pada ladang kami.

Keduanya bukan musuh. Keduanya satu rantai. Putus satu, hancur semuanya.

Hutan Seblat tidak menunggu jabatan berakhir

Gajah Seblat tidak mengerti pertemuan-pertemuan di ruangan ber-AC.

Dan kami para petani — kami tidak bisa menunggu selamanya. Kami cuma butuh satu hal:

hutan yang utuh, koridor yang terbuka, dan ruang yang cukup — untuk kami, dan untuk mereka.

Kita tidak mewarisi hutan dari nenek moyang semata — kita meminjamnya dari anak cucu kita. Dan Seblat, dengan segala gajah, hutannya, dan kehidupan kami di sekitarnya — layak kita kembalikan dalam keadaan utuh, bukan dalam potongan-potongan yang menyedihkan.

Karena ketika Seblat hilang, kita bukan sekadar kehilangan hutan. Kita kehilangan bagian dari diri kita sendiri. 

📍 Ditulis dari pondok sambil menunggu kabut Bukit Sedingin pergi

💬 Tulisan ini mencerminkan pandangan pribadi penulis berdasarkan data Koalisi Bentang Alam Seblat dan pengalaman langsung di lapangan ketika masih aktif sebagai Anggota KPA Margapala.

☕
☕ Berbagi Ke Facebook

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi pendapat, kritik dan saran. Siapa tau buah pikirmu adalah solusi kita bersama.