Barista Kena Mental! Petani Kopi Skakmat Barista Kafe Kekinian
![]() |
| Ilustrasi Oleh Gemini |
Dang Away adalah petani kopi senior dari Bukit Sedingin.
Suatu hari, anaknya, Pawan mengajak Dang Away ke sebuah kafe estetis di kota yang ternyata menggunakan biji kopi hasil panen dari kebun Wak Kodir, tetangga kebun Dang Away.
Masuk ke kafe, Dang Away langsung disambut barista berambut klimis dengan celemek kulit bergaya barista internasional.
"Selamat datang, Pak. Mau pesan kopi apa? Kita ada single origin yang diproses secara light roast untuk mengeluarkan notes buah-buahan yang eksotis," kata si barista dengan bahasa langit.
Dang Away mengerutkan kening. "Om, saya ini petani kopi. Saya ke sini mau ngopi, bukan mau ngerujak. Kok kopi rasa buah? Kopi itu ya rasa kopi."
Si barista tersenyum meremehkan. "Ah, Bapak belum tahu seni kopi modern. Ini namanya Espresso, Pak. Intisari kopi terbaik."
Barista itu menyodorkan cangkir mini seukuran jempol. Harganya tertera di menu: Rp45.000.
Dang Away melihat cangkir kopinya kemudian melihat dompetnya. Ia menggeleng-gelengkan kepala.
"Om, kamu jualan kopi apa jualan obat batuk dosis tinggi? Cangkir sekecil ini harganya 45 ribu? Di desa saya, uang segitu bisa buat beli kopi 9 gelas, Om. Segini kalau saya minum sekali hirup, kopinya belum sampai tenggorokan sudah menguap duluan karena AC kafe kamu," protes Dang Away.
Pawan berbisik malu, "Sudah, Yah, pesen yang lain saja."
Akhirnya Dang Away memesan Caffè Latte. Begitu disajikan, di atas busa kopinya ada gambar hati yang sangat rapi (latte art).
Si barista tersenyum bangga, menunggu pujian dari sang petani. Dang Away menatap cangkir itu dengan tatapan heran yang mendalam. Bukannya kagum, ia malah menengok ke arah dapur kafe.
"Om... Om barista," panggil Dang Away.
"Iya, Pak? Indah kan gambarnya?" tanya barista percaya diri.
"Bukan masalah indah, Om. Saya cuma mau nanya... tadi pas Om ngegambar hati di kopi saya, Mas ngobrol sama temennya ya? Atau Mas melamun?"
Barista itu bingung. "Eh, enggak Pak. Saya fokus kok."
"Lha kalau fokus, kenapa kopinya sampai dingin begini?" Dang Away memegang cangkirnya. "Kopi itu dinikmati selagi panas, Om! Ini gara-gara Om keasyikan melukis, kopinya malah masuk angin. Di kampung saya, kopi dingin begini cuma dipakai buat nyiram keladi!"
Si barista langsung melongo, mendadak kena mental. Seluruh teori latte art yang dia pelajari di kelas jutaan rupiah runtuh seketika di hadapan logika sederhana seorang petani.
Belum sempat barista itu membela diri, Dang Away meraba kantongnya. Ia mengeluarkan sebungkus gula pasir dan sebatang kayu manis kering langsung dari kebunnya.
"Nih, Om, biar saya ajarin cara minum kopi yang bener," kata Dang Away sambil mengaduk kopinya dengan kayu manis.
Aroma kafe langsung berubah jadi harum alami kebun. Dang Away menyeruputnya dengan suara keras, "Slurrrppp! Ah!"
"Nah! Kopi itu yang penting rasanya, bukan lukisannya. Besok-besok kalau saya kirim biji kopi ke sini, tolong jangan diajak melukis ya kopinya. Kasihan, capek-capek saya tanam, di sini malah cuma dijadikan cat air," tutur Dang Away sambil tersenyum lebar.
Si barista hanya bisa mengangguk pasrah sambil mengelap meja, menyadari bahwa di depan sang maestro kebun, estetika kota tidak ada apa-apanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberi pendapat, kritik dan saran. Siapa tau buah pikirmu adalah solusi kita bersama.