Mitos vs Fakta Fenomena Bulan Bintang: Dari Tanda Cuaca hingga Okultasi Venus
![]() |
| Gambar Bulan Bintang |
Aku baru tau kalau foto sejenis ini malah viral. Keliatan keren sih.
Data gambar: diambil dan dikirim teman dari Kabupaten Bengkulu Utara.
Itu terlihat seperti bintang sih, tapi itu yang dianggap Planet Venus oleh pengetahuan umum.
- Disebut sebagai Bintang Kejora: Saat Venus muncul di langit timur sebelum Matahari terbit (waktu pagi).
- Bintang Senja / Bintang Remang: Saat Venus muncul di langit barat setelah Matahari terbenam (waktu sore/malam).
Dalam bahasa atau konteks lain, Venus juga pernah disebut dengan nama seperti Lucifer (untuk versi pagi) atau Vesper (untuk versi senja) dalam tradisi lama barat.
Tapi nama yang paling umum dikenal di Indonesia adalah Bintang Kejora dan Bintang Senja.
Bagaimana Ilmu Pengetahuan Melihat Penampakkan Bulan Bintang ini.
Datanya:
- Fenomena: Konjungsi Bulan-Venus.
Khusus untuk wilayah Sumatra, Jawa bagian barat, dan sebagian Kalimantan Barat terjadi sebagai Okultasi Venus oleh Bulan pada Senin, 14 September 2026 sore setelah matahari terbenam, sekitar pukul 19.30 - 20.43 WIB.
Objek terang di samping Bulan: adalah Planet Venus, yang sering disebut Bintang Kejora. Meski tampak seperti bintang, itu adalah planet yang sangat terang karena memantulkan cahaya Matahari dengan kuat.
- Fase Bulan: Terjadi beberapa hari setelah Bulan Baru pada 11 September 2026.
Jadi yang terlihat adalah bulan sabit tipis. Secara ilmiah ini bukan pertanda mistis atau tanda bencana.
BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dan Observatorium Bosscha menjelaskan ini murni dinamika alami akibat posisi orbit Bulan dan Venus yang terlihat segaris dari Bumi, efek perspektif saja.
💢 Observatorium Bosscha adalah observatorium astronomi tertua di Indonesia sekaligus observatorium astronomi modern pertama di Asia Tenggara, yang berfungsi sebagai pusat penelitian astronomi, pendidikan, dan wisata edukasi.
Karena terlihat mirip simbol bulan-bintang, banyak yang mengira bintang, padahal itu Venus yang sempat tertutup piringan Bulan lalu muncul kembali.
🌊 Apakah Ada Pengaruhnya Terhadap Cuaca?
Tidak ada pengaruhnya. Secara ilmiah, konjungsi / okultasi Bulan-Venus seperti ini murni peristiwa visual dari Bumi.
- Jarak Venus sekitar 100 juta km dari kita, jadi efek gravitasinya ke Bumi praktis nol.
- Cuaca: Tidak berpengaruh. Cuaca ditentukan oleh sistem atmosfer, suhu laut, angin muson, bukan posisi Venus.
- Pasang surut: Hanya dipengaruhi Bulan dan Matahari. Venus tidak menambah efek yang terasa.
- Gempa / bencana / pertanda: BRIN dan Bosscha menegaskan tidak ada kaitannya.
Spekulasi soal pertanda mistis muncul karena bentuknya mirip simbol bulan-bintang, bukan karena data. Satu-satunya "pengaruh" yang nyata: langit barat jadi bagus banget buat difoto setelah magrib, seperti banyak photo yang jadi Viral.
Termasuk photo berikut, yang di comot dari Facebook salah satu tetangga di Bukit Sedingin.
![]() |
| Photo Bulan Bintang Yang diambil Dari Bukit Sedingin-Jambi |
Gambar yang terlihat kurang epik ini saja sampai mendapatkan respon ratusan Like, dan puluhan komentar. Gimana ga viral coba. Dan ada banyak tanggapan mistis sesuai dengan kepercayaan masing-masing.
Bukannya Kalamintoena tidak setuju dengan ajakan lebih berhati-hati dan lebih banyak berdoa. Tapi kenapa juga harus hati-hati dan berdoa nunggu petunjuk Bulan dan Bintang?.
Apakah Ada Tradisi Untuk Prakiraan Cuaca Beberapa Hari Kedepan..?
Perlu diingat, tradisi tidak membaca cuaca seminggu, hanya 1-3 hari ke depan, dan itu pun hanya soal kelembaban udara, bukan ramalan pasti.
Untuk bentuk seperti di photo Bulan Bintang Bukit Sedingin:
Tafsir tradisi:
Bulan sabit tipis yang tepinya tajam + Venus terlihat sangat terang tanpa halo = udara atas kering dan bersih.
Dalam pakem petani/nelayan, ini dibaca sebagai:
- Malam itu sampai 2-3 hari ke depan cenderung cerah / tidak hujan.
- Kalau besoknya muncul cincin (halo) di sekitar bulan, baru itu tanda kelembaban naik dan hujan akan datang
Data modern untuk Bukit Sedingin-Jambi:
Bukit Sedingin, Jambi pada saat fenomena itu terjadi (15-16 Sep) mencatat suhu berkisar 35°-36°C dan sebagian berawan dengan peluang hujan hanya 10%. Jadi, analisis tradisi dan data modern terbukti sama-sama akurat memprediksi cuaca terik setelah fenomena tersebut.
Tapi ingat, walaupun cara ini terbukti sama dan memang hari Rabu dan Kamis Cerah, cara tradisional ini kalah teliti lawan satelit BMKG. Tradisi bagus untuk baca "malam ini cerah atau tidak", tapi untuk tahu kapan hujan turun, tetap lebih akurat prakiraan modern.
Semoga info ini bisa bermanfaat, setidaknya menambah bahan obrolan. 😁


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberi pendapat, kritik dan saran. Siapa tau buah pikirmu adalah solusi kita bersama.