Logo Kalamintoena

Kalamintoena

Catatan Kecil Petani Kopi Bukit Kabut Sedingin - Jambi

Bukit Sedingin, begitu namanya disebut. Dan sampai hari ini, dia sebenarnya tidak benar-benar kehilangan jati dirinya. Kabut masih memeluk setia, mendekap kebun kopi kami.

gambar artikel blog kalamintoena.my.id
kalamintoena.my.id
👉 Bunga Kopi Mulai Mekar Ditengah Panas Ekstrem Bukit Sedingin 

Kalau saya berdiri di teras pondok dan memandang ke bawah, rumah-rumah di desa Gedang di lereng sana sama sekali tidak kelihatan jelas. Samar, putih, dan tertutup pelukan kabut.

Tapi, bisa jadi itu kabut asap kiriman, karena kabarnya di media sosial, beberapa wilayah di Negara ini dikabarkan menjadi spot api bagi Karhutlah.

Pemandangan di Bukit Sedingin masih sama seperti biasanya. Tapi, ada satu hal besar yang berubah sejak hari Rabu kemarin, tepatnya tanggal 02 September 2026. 

Suhunya.

Biasanya, kabut setebal ini akan memaksa kami merapatkan jaket karena dingin yang konsisten. Namun sejak Rabu itu, di ketinggian lebih dari 800 MDPL ini, di tengah hamparan kebun Kopi Robusta Sumatera Merangin, kabut ini terasa seperti uap panas yang keluar dari dalam dandang. 

Matahari membakar dari balik putihnya langit, menembus apapun, menaikkan suhu hingga menyentuh 33° C tapi menurut Google terasa seperti 39°C.

Rasanya aneh.

Berkabut, tapi seperti uap dandang.

Apa Kabar Bunga Kopi yang Sedang Mekar Di tengah hawa yang pengap ini

Kebun sebenarnya sedang berada di salah satu momen ter-cantik-nya. Masih musim buah kopi, masuk putiran yang kedua.

Bersamaan dengan itu, bunga-bunga kopi juga sedang bermekaran. Wanginya pun semerbak di sepanjang barisan tanaman. 

Namun, keindahan di dalam kabut panas ini membuat dada ku agak cemas.

Menatap bunga-bunga putih yang sedang mekar di suhu se-ekstrem ini memicu ketakutan tersendiri.

Entah apa yang akan terjadi pada mereka beberapa hari ke depan. Suhu ini bisa membuat bunga kopi itu mengering sebelum sempat melakukan penyerbukan.

Jika itu terjadi, impian melihat dompolan buah hijau yang lebat di musim depan bisa sirna. Bunga-bunga itu akan berubah hitam, kering, lalu kopong.

Masih berharap ada rintik hujan yang menyertai, bukan sekadar uap gerah yang menjepit bukit.

Menimbang Air, Mengalah pada Gulma 

Krisis air di pondok akhirnya memaksa saya mengambil keputusan berat. Sebagian gulma belum selesai seluruhnya di semprot.

Namun bak tampungan air hujan sudah kering, saya terpaksa menarik rem darurat. Penyemprotan herbisida dihentikan total. 

Sumur air bersih yang menjadi tumpuan hidup turut menyusut. Untuk mencuci pakaian harian saja harus berpikir berulang-ulang, apalagi kalau harus mengorbankan berember-ember air bersih hanya untuk melarutkan racun rumput.

Di saat seperti ini, air untuk bertahan hidup jauh lebih utama.

Tapi, setelah saya renungkan kembali sambil menyeruput kopi di teras pondok, ada hikmah di balik langkah darurat ini.

Di tengah cuaca ekstrem, tanah kebun tidak boleh telanjang. Gulma yang belum sempat disemprot itu ternyata menjadi pelindung. 

Mereka bertindak sebagai mulsa alami yang menutupi permukaan tanah, menahan sisa-sisa kelembapan agar akar pohon kopi di bawahnya tidak langsung terpanggang suhu udara yang membara.

Biarlah rumput itu memanjang sedikit lebih lama, demi menjaga tanah Bukit Sedingin agar tidak cepat retak.

Berkah yang Menyiksa

Kalau mau dipaksakan mencari sisi baiknya, cuaca seterik ini sebenarnya adalah berkah untuk menjemur kopi. Ceri merah hasil putiran kedua ini bisa kering dalam waktu yang jauh lebih singkat dari biasanya.

Tapi ya itu tadi, ironinya, proses putiran belum selesai sepenuhnya. Sebagian buah kopi masih menggantung di dahan-dahan kebun yang jauh, belum semuanya sempat dibawa ke halaman jemur.

Memanen kopi di tengah kepungan kabut yang hawanya panas menyengat ini rasanya dua kali lipat lebih melelahkan.

Tubuh basah oleh keringat, tenggorokan cepat kering, dan kepala mudah pusing. 

Catatan Kecil untuk Bertahan

Jujur, saya tidak punya tips sains yang canggih dari pakar pertanian untuk mengatasi anomali cuaca global ini.

Saya hanya seorang petani perantau di Jambi yang sedang cemas menatap modal hidup dipertaruhan alam.

Namun, dari obrolan santai antar petani tetangga kebun, ada beberapa langkah kecil yang bisa kita lakukan untuk mencoba bertahan:

  • Babat Manual, Jangan Racun Kimia:

Kalau rumput di sekitar piringan kopi sudah terlalu tebal, cukup dibabat pendek saja memakai parang.

Jangan disemprot kimia sampai mati ke akar. Tumpukan rumput hasil babatan itu bisa kita hamparkan di sekeliling pangkal batang kopi untuk membantu menahan penguapan air tanah.

  • Sesuaikan Jam Kerja Kebun:

Jangan nekat menantang terik siang. Kita usahakan turun ke kebun lebih pagi saat sisa embun masih tersimpan di balik kabut, lalu kembali ke pondok sebelum jam 11 siang. 

Kesehatan kita sebagai petani adalah modal utama yang harus dijaga.

  • Selamatkan Bibit Muda:

Jika memiliki bibit kopi yang baru ditanam atau masih di polibag, prioritaskan sisa air sumur yang sedikit itu untuk mereka.

Pohon kopi dewasa punya akar yang cukup dalam untuk bertahan, tapi bibit muda akan langsung mati jika medianya kering total. 

Bukit Sedingin sedang tidak baik-baik saja, setelah tanah retak kering kerontang, semoga tidak akan ada longsor bila hujan datang.

Semoga wangi bunga kopi yang mekar di dalam kesamaran putih hari ini tidak menjadi salam perpisahan, melainkan bukti ketangguhan kebun kami melewati ujian langit yang membara.

Mari kita seruput lagi kopi kita, walau siang ini rasanya gerah bukan main. ☕

☕
☕ Berbagi Ke Facebook

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi pendapat, kritik dan saran. Siapa tau buah pikirmu adalah solusi kita bersama.