Logo Kalamintoena

Kalamintoena

Catatan Kecil Petani Kopi Bukit Kabut Sedingin - Jambi

Harga Kopi Hari Ini Rp54.200, untuk 26 Karung Ceri Merahku

Pagi itu, hujan turun tanpa henti. Kabut tebal masih setia menyelimuti Bukit Sedingin. Di halaman pondok, 26 karung ceri merah kopi sudah menanti untuk segera diproses.

gambar artikel blog kalamintoena.my.id
kalamintoena.my.id
👉 Menjemur kopi bulat (grinting) 
Untuk memetiknya, saya mempekerjakan tenaga petik dengan upah Rp150.000 per karung. Sistem lepas—tidak menyediakan makan maupun rokok.

Dengan Rp150.000 ini, kopi merahku sudah bisa sampai di lantai penjemuran dengan selamat.

🌤️ Seminggu Terbuka di Bawah Langit

Ceri merah tersebut langsung saya hamparkan di atas lantai jemur.

Sengaja dibiarkan terbuka begitu saja, hanya dibolak-balik tiga kali sehari menggunakan tolak baro. Siang hari ia ditempa terik matahari, malamnya dibiarkan memeluk embun pagi.

Proses ini berlangsung selama tujuh hari tujuh malam.

Pada hari keenam, kulit ceri mulai rata menghitam. Saat itulah proses me-lebong dimulai.

Kopi dikumpulkan hingga membentuk gunungan kecil, lalu ditutup rapat menggunakan terpal.

Selama tiga hari empat malam, kami membiarkannya "bernapas" dan mematangkan rasanya dalam diam.

☀️ Jemur Kedua — Ujian Kesabaran yang Sesungguhnya

Kopi Mulai Hitam
Kopi Sebelum Di Lebong
Setelah proses lebong selesai, perjuangan sesungguhnya baru dimulai.

Ini adalah tahap yang paling menguras tenaga dan pikiran.

Dalam sehari, kopi harus dibolak-balik berkali-kali. Jika awan hitam mulai menggantung, kami harus bergegas mengumpulkan dan menutupnya kembali dengan terpal.

Kopi-kopi ini tidak boleh menyentuh air sedikit pun. Sekali saja terkena air hujan, kualitasnya akan langsung merosot.

Lima hari penuh kami menjaga kopi-kopi ini dengan ketat. Alhamdulillah, hasilnya kering dengan sempurna.

Minggu lalu, seluruh hasil jemuran dikumpulkan ke gudang, dan hari Minggu kemarin proses penumbukan dimulai.

Dari 26 karung ceri merah yang dipetik, terkumpul menjadi 5 karung biji kopi (green bean).

🛵 Jalan Licin, Guyuran Hujan, dan Ojek Kopi

Ojek Kopi Turun Gunung
Ojek Kopi Turun Gunung
Rencananya, tadi pagi kopi-kopi ini akan dibawa turun gunung untuk dijual. Namun, hujan tak kunjung reda.

Menjelang jam 12 siang, para tukang ojek baru berkumpul lengkap. Medan jalan tanah yang kami lalui sangat licin dan berlumpur.

Bahkan, salah satu pengendara sempat terjatuh dari motornya. Jalurnya memang berat dan ekstrem, tetapi kopi-kopi ini harus tetap turun gunung.

Untuk ongkos angkut, saya membayar Rp1.500 per kilogram. Berbeda dengan pemetik, untuk para tukang ojek ini saya menanggung rokok, makan, dan jajanan ringan mereka.

Bukan karena saya dermawan, tapi memang sudah begitu pasaran dan aturan mainnya. Tidak mudah mengendarai motor dengan beban berat dan Medan perbukitan ini.

💰 Alasan di Balik Pilihan pada Toke Kedua

Setibanya di Dusun Gedang, Toke Pertama langsung memeriksa kualitas kopi saya. 

"Rp53.000 per kilo, Bang," tanyanya membuka harga.

Saya hanya tersenyum ramah. "Coba dicek lagi, ini jemur bulat." Jawabku bernegosiasi 

--- Jemur Bulat (natural process) ---

Setelah memeriksa ulang, ia menaikkan tawarannya, "Ya sudah, Rp54.000."

Namun, saya tidak langsung melepasnya. Ada alasan kuat mengapa saya lebih memilih bertransaksi dengan Toke Kedua, bahkan jika harga yang ditawarkan sama.

Dulu, saat saya berada dalam kondisi ekonomi yang mendesak, saya terpaksa menjual kopi yang masih basah karena belum kering sempurna.

Toke Pertama menolak dengan alasan logis, berani dengan harga yang sangat murah.

Namun, Toke Kedua dengan berbaik hati mau menerimanya dengan harga yang adil dan tetap memberikan keuntungan bagi saya.

Bagi saya, ini bukan lagi soal utang piutang, melainkan bentuk penghargaan dan balas budi.

Saat saya kesusahan dulu, dia tidak mempersulit keadaan. Kini, saat kualitas kopi saya sedang bagus dan kering sempurna, sudah sepantasnya saya memprioritaskan dia.

Toke Kedua awalnya juga membuka harga di angka Rp54.000. Namun, setelah kami mengobrol dan bernegosiasi santai, kami sepakat di harga Rp54.200 per kilogram. 

Satu per satu karung dinaikkan ke timbangan. Alhamdulillah, totalnya mencapai 691 KG.

Artinya, setiap karung ceri merah yang kami petik, jemur, jaga, dan bawa turun gunung, nilainya tetap stabil menghasilkan 30 kilogram biji kopi kering per-karungnya.

💭 Penutup

Bagi masyarakat perkotaan, kenaikan atau penurunan harga sebesar seribu rupiah mungkin tidak akan terasa dampaknya.

Namun bagi kami, para petani di atas bukit ini, selisih angka tersebut adalah penyambung hidup—bisa berarti selisih persediaan beras, biaya obat saat sakit, hingga kelangsungan biaya sekolah anak.

Dengan kenaikan harga Rp200 itu saja aku sudah mendapatkan tambahan Rp200 x 691 Kg. Hampir Rp140.000.

Apalagi dengan selisih harga Rp1000.

Angka 691 kilogram ini bukan sekadar statistik di atas kertas atau berita di layar ponsel.

Ini adalah wujud nyata dari 26 karung kopi yang kami petik langsung dengan tangan, kami jemur dengan sepenuh hati, kami jaga dengan kesabaran, dan kami turunkan dengan cucuran keringat.

Namun, begitu timbangan selesai dihitung dan lembaran uang sudah berada di genggaman, seluruh rasa lelah yang menumpuk selama berminggu-minggu seketika lunas terbayarkan.

Semoga harga kopi esok hari bisa jauh lebih baik. Semoga keringat para petani kopi selalu dihargai dengan layak. Dan semoga kita semua selalu ingat:

kebaikan yang kita tanam saat orang lain sedang kesusahan, akan selalu kembali kepada kita di waktu yang paling tepat. ☕

☕
☕ Berbagi Ke Facebook

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi pendapat, kritik dan saran. Siapa tau buah pikirmu adalah solusi kita bersama.