Logo Kalamintoena

Kalamintoena

Catatan Kecil Petani Kopi Bukit Kabut Sedingin - Jambi

Dampak MBG: Catatan Kecil Petani Kopi Bukit Sedingin

Petani Kopi Bukit Kabut Sedingin, Dari Pondok: Kala Dapur Tercekik Kebijakan "Pukul Rata" Pemerintah Pusat.

Sambil melihat jemuran kopi

Jangan kira jadi petani buruh itu ga mikirin negara.

Kalau kamu mikirnya gitu... kamu benar 😅

Di sela-sela seruput kopi kala senja antri mandi di Bukit Sedingin, isi kepala ini iseng mikirin draf anggaran ratusan triliun di Jakarta sana.

Orang kota sibuk tepuk tangan pas program Makan Bergizi Gratis (MBG) cair Rp101 triliun.

Lah kita yang di kebun? Malah pasrah sambil mengutuk nasib.

Bukan apa-apa, niatnya katanya mau nurunin angka stunting. Tapi cara mainnya pukul rata se-Indonesia.

Padahal kan seharusnya urusan gizi anak itu ya mulainya dari dapur rumah masing-masing, bukan cuma pas anak itu sudah pakai seragam sekolah.

Toh stunting juga bukan bisa ditanggulangi pas anak-anak sudah sekolah kan ya..?

Gara-gara pengadaan massal MBG, hukum pasar langsung main. Harga bahan pokok merangkak naik. Sudah gitu, kebutuhan kebun kayak pupuk, pestisida, sampai BBM ikut-ikutan ugal-ugalan harganya.

Cussss.. Meroket..!

Ujung-ujungnya apa? Anak di sekolah dapat makan sekali, tapi orang tua di rumah makin susah penuhin gizi harian karena duit belanja habis kegusur buat beli pupuk yang makin mahal.

Mau nyiasati? Ya ga ada siasat, sisa tenaga cuma cukup buat pasrah.

Solusi Ngopi Santai Seruput Ala Slow Motion dari Lereng Bukit Sedingin

Kalau mau pakai logika waras, ngadepin stunting, dari pada anggaran jumbo dibagi rata ke semua daerah yang belum tentu butuh, mending diserahin ke Dinas Kesehatan cq. Posyandu.

Mereka punya data konkret anak mana yang kurang gizi. Kasih intervensi medis langsung ke ibunya. Lebih hemat, lebih tepat sasaran.

Sekalian, paksa daerah rawan stunting ikut program KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari). Latih warganya mandiri pangan di pekarangan sendiri biar makannya Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA).

Kalau pekarangan subur, harga pasar mau naik kayak apa juga warganya aman, ga perlu pusing mikir cabai atau telur.

Sisa anggarannya? Ya buat urusan struktural yang jelas-jelas krisis, misalnya bantu naikin gaji guru honorer yang kabarnya masih banyak digaji Rp300.000 sebulan. Miris..

Penanggulangan bencana yang sekarang bukan main bertubi-tubi melanda negeri. Dari Aceh sampai NTT, belok dikit ke Kalimantan nerobos ke Sulawesi.

Jelas mereka butuh pemerintah sekarang.

Harapan yang Dititip ke Anak Kuliahan

Pas BEM UI kemarin demo bawa 8 tuntutan, hati ini rasanya terwakili. Aku yang merantau jadi buruh kebun di Jangkat ini ga punya ruang buat teriak ke kuping pejabat di Jakarta.

Waktu kami habis buat kerja fisik di kebun. Harapan satu-satunya ya ada di anak-anak mahasiswa itu. Mereka yang punya data, punya panggung, dan punya megafon buat nerusin jeritan hati dari tapal batas kayak Bukit Sedingin ini.

Pesan kami cuma satu buat penguasa: Bikin Haluan Negara yang jelas! Supaya pembangunan negara ini punya arah pasti dan kementerian bisa fungsi maksimal.

Jadi siapapun presidennya nanti, dia wajib tunduk sama haluan itu, bukan malah bikin program populis demi popularitas musiman yang bikin rakyat kecil makin tercekik.

Ah tapi sudahlah, namanya juga obrolan sambilan seruput ☕ dari pondok...

Kenapa Maha Siswa Turun ke Jalan?

Aku yakin, mahasiswa tidak serta merta turun ke jalan. Karena ada banyak ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi.

1. Jalur Akademis dan Advokasi Resmi

  • Policy Brief dan Kajian Ilmiah: Mahasiswa menyusun dokumen analisis kebijakan yang komprehensif, berbasis data, dan menyertakan solusi konkret, lalu mengirimkannya langsung ke kementerian terkait atau lembaga negara.
  • Audiensi Formal: Meminta pertemuan resmi dengan pembuat kebijakan, seperti anggota DPR/DPRD, kepala daerah, atau jajaran birokrat untuk memaparkan hasil kajian secara langsung.
  • Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU): Mengajukan permohonan kepada komisi terkait di DPR untuk hadir dalam sidang resmi guna memberikan masukan dari sudut pandang akademisi dan masyarakat.

2. Jalur Hukum dan Konstitusi

  • Judicial Review: Jika aspirasi berkaitan dengan penolakan atau revisi undang-undang, mahasiswa melalui tim hukumnya dapat mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK) untuk UU, atau ke Mahkamah Agung (MA) untuk peraturan di bawah UU.
  • Petisi Resmi: Menyusun petisi yang berkekuatan hukum atau menggunakan platform petisi publik nasional untuk menggalang dukungan massal yang sah secara legal sebagai bentuk tekanan sipil.

3. Jalur Media dan Kampanye Digital

  • Media Massa dan Opini: Menulis artikel opini, esai, atau analisis kritis di media cetak maupun portal berita nasional guna membentuk wacana publik secara luas.
  • Kampanye Digital Kreatif: Memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan infografis, video penjelas, podcast, atau ruang diskusi publik (live streaming). Cara ini terbukti sangat cepat dalam membangun kesadaran masyarakat tanpa harus memobilisasi massa ke satu titik lokasi.
  • Gerakan Penggalangan Data (Crowdsourcing): Mengumpulkan bukti lapangan atau keluhan masyarakat secara digital mengenai suatu kebijakan yang gagal, lalu merilisnya sebagai laporan independen kepada publik.

Apakah BEM UI Belum Melakukan ini..?

Aku yakin sudah. Tapi tidak digubris, paling banter cuma di dengar dan dilupakan. Makanya BEM memutuskan Demo.

Prinsip ideal dari sebuah sistem demokrasi yang dialogis, di mana pemimpin dan pembuat kebijakan secara aktif membuka pintu bagi aspirasi kaum intelektual seperti mahasiswa tanpa perlu menunggu eskalasi di jalanan.

Dalam praktiknya, terdapat dinamika dan kendala mengapa dialog langsung sebelum demo itu sering kali sulit terwujud, yang dapat dilihat dari dua sisi:

Mengapa Dialog Langsung Sebelum Demo Sulit Terwujud?

  • Birokrasi dan Protokol yang Kaku: Pemerintah sering kali menerapkan prosedur berlapis untuk audiensi formal. Proses disposisi surat, penyelarasan jadwal pejabat, hingga kajian internal memakan waktu yang sangat lama. Bagi mahasiswa, kelambatan ini sering dirasa sebagai bentuk pengabaian atau taktik menunda-nunda.
  • Skala Prioritas dan Beban Kerja: Pejabat publik atau kepala lembaga negara kerap berargumen bahwa mereka harus membagi waktu untuk eksekusi program operasional, rapat kabinet, atau kunjungan kerja. Akibatnya, isu yang dibawa mahasiswa—meski penting—sering kali bergeser dari prioritas utama agenda harian pejabat tersebut.
  • Perbedaan Status dan Formalitas: Pertemuan formal di dalam ruangan sering kali dikritik mahasiswa karena cenderung bersifat "satu arah" atau sekadar formalitas seremonial, di mana pemerintah hanya mendengarkan tanpa memberikan komitmen atau perubahan kebijakan yang nyata pada saat itu juga.

Dampak Positif Jika Pemerintah Proaktif Membuka Ruang

Banyak pakar hukum tata negara dan sosiolog sepakat bahwa jika pemerintah mau berinisiatif menjemput bola, ada banyak keuntungan yang didapat:

  • Efisiensi Energi Negara: Anggaran operasional pengamanan, pengerahan ribuan personel aparat, dan risiko kerusakan fasilitas umum akibat gesekan di lapangan dapat ditekan.
  • Mencegah Kelumpuhan Kota: Roda ekonomi masyarakat, akses transportasi publik, dan aktivitas harian warga di pusat kota dapat tetap berjalan normal tanpa terganggu penutupan jalan.
  • Kualitas Kebijakan yang Lebih Baik: Dialog tatap muka yang tenang di meja perundingan memungkinkan perdebatan data dan argumen akademis secara mendalam, menghasilkan solusi kebijakan yang lebih matang ketimbang negosiasi cepat di tengah riuhnya massa aksi.

Pada akhirnya, kesediaan pemerintah untuk duduk bersama mahasiswa secara setara dan terbuka adalah kunci untuk menciptakan iklim politik yang sehat, sehingga jalanan tidak perlu menjadi satu-satunya tempat untuk didengar.

Jadi, isu penanganan stunting dengan MBG ini tidak terlihat bodoh dan lucu.

Kenapa bodoh?, karena asal gas saja. Kenapa lucu?, Karena bodoh..! Menangani stunting di usia sekolah.

1. Kontradiksi Klaim Stunting vs Realitas Gizi di Rumah

Banyak ahli kesehatan masyarakat yang mengkritik efektivitas program makanan gratis di sekolah:

  • Fase Kritis 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK): Secara medis, stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan hingga usia 2 tahun.

Setelah usia tersebut (saat anak masuk PAUD atau SD dan menerima MBG), intervensi makanan tidak bisa membalikkan kondisi stunting yang sudah terlanjur terjadi, melainkan hanya membantu memulihkan energi dan fokus belajar anak.

Itupun kalau dia ga mikir di rumah nanti makan apa.

  • Gizi Rumah Tangga yang Tergerus: Program ini memicu kenaikan harga bahan pokok akibat lonjakan permintaan pasar, pemenuhan gizi mandiri di rumah untuk seluruh anggota keluarga (termasuk ibu hamil dan balita yang justru berada dalam fase 1.000 HPK) akan merosot.

Hal inilah yang mendasari kekhawatiran kita bahwa risiko stunting baru pada balita di rumah justru berpotensi meningkat.

2. Masalah Kebutuhan Spesifik dan Risiko Kesehatan

Setiap anak lahir dengan kondisi biologis yang berbeda, sehingga menyamakan menu secara massal membawa tantangan tersendiri:

  • Risiko Alergi dan Intoleransi Pangan: Tanpa pemeriksaan medis individual sebelum program dijalankan, pembagian makanan massal berisiko memicu reaksi alergi (misalnya terhadap telur, ikan, atau susu) yang jika tidak ditangani bisa berbahaya bagi anak.
  • Ketidakcocokan Kalori: Anak yang aktif bergerak membutuhkan porsi yang berbeda dengan anak yang kurang aktif. Menu seragam berpotensi tidak mencukupi kebutuhan kalori anak tertentu, atau sebaliknya, memicu risiko obesitas dini pada anak lainnya.

3. Dilema Prioritas: Kesejahteraan Guru vs Program Populis

Anggaran MBG yang ratusan triliun itu tentu bisa kita setarakan dengan biaya yang bisa menyelesaikan banyak masalah struktural pendidikan:

  • Ironi Guru Honorer (cuma contoh yang mewakili dari sekian banyak Ironi)

Kritik publik menyoroti betapa kontrasnya anak-anak yang diberi makanan bergizi gratis di kelas, sementara guru yang mengajar mereka kelaparan karena upah jauh di bawah UMR.

Banyak pengamat pendidikan menilai bahwa memperbaiki kesejahteraan guru dan fasilitas sekolah yang rusak seharusnya menjadi fondasi utama yang didahulukan sebelum membangun program baru yang masif, tapi ya tidak diberi nilai.

Pada akhirnya, kritik-kritik berbasis data dan realitas lapangan ini adalah alasan mengapa elemen seperti BEM UI terus mengawal isu ini di ruang publik.

Program berskala raksasa tidak boleh hanya indah di atas kertas, tetapi harus diuji dengan kondisi riil di dapur dan meja makan keluarga Indonesia.

Ku titipkan saja pada mahasiswa yang masih peduli. Karena wakil ku, di gedung sana sudah tidak mewakili ku lagi.

☕ 

☕
☕ Berbagi Ke Facebook

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi pendapat, kritik dan saran. Siapa tau buah pikirmu adalah solusi kita bersama.